Pandu Arief Setiadi
BELAKANGAN ini beredar beberapa rumor bahwa mi instan bisa berbahaya bagi kesehatan. Rumor yang cukup mengganggu adalah bahwa mi instan bisa memicu terjadinya kanker. Dan karena itu, mi instan tidak boleh dimasak bersama bumbunya. Pemanasan di atas 120 derajat Celsius berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker.
Benarkah demikian? Ternyata tidak. Demikian kata Prof Dr FG Winarno, ahli pangan dan Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman). "Mi instan kering merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih. Biasanya kurang lebih 100 derajat Celsius dalam waktu kurang dari 5 menit. Jadi, suhunya bukan 120 derajat Celsius, di mana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort untuk strelisasi dalam proses pengalengan pangan," terangnya.

Rumor lain yang tak kalah mengganggu adalah bahwa mi instan menggunakan lilin supaya awet dan tidak lengket setelah dipanaskan. Rumor ini pun tidak benar. "Teknologi produksi mi instan tidak pernah menggunakan lilin. Mi instan awet dan tahan simpan karena proses pembuatannya, antara lain dengan cara penggorengan atau deep frying yang membuat kadar air mi instan menjadi sangat rendah (sekitar 5 persen), sehingga tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup dan berkembang biak. Karena kadar air yang sangat rendah tersebut, mi instan bersifat sangat awet. Karena proses deep frying tersebut menggunakan minyak goreng, tidaklah aneh kalau sewaktu memasak mi instan terlihat berminyak. Tapi tidak mengandung lilin karena lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Dan itu terdapat pada makanan seperti apel dan kubis," sambungnya.

Styrofoam yang digunakan pada mi instan cup pun dianggap berbahaya bagi tubuh. Tapi anggapan itu salah. Styrofoam terbukti aman karena telah melewati standar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Cup yang dipakai mi instan adalah styrofoam (expandable polysteren) khusus untuk makanan (food grade) dan bisa menyerap panas. Itulah mengapa setelah diseduh dengan air panas, kita masih bisa memegang cup mi karena tidak panas.

Karena proses pressing-nya memenuhi standar, molekul styrofoam tidak larut atau rontok bersama mi instan yang diseduh dengan air panas. Jadi, jika mi instan menempel pada cup-nya ketika diseduh dengan air panas, itu semata-mata disebabkan oleh tingginya kadar minyak dalam mi, yaitu sekitar 20 persen.

Desain yang dibuat untuk mi instan pun berbeda, yaitu dengan menambahkan gerigi di bagian atas cup sehingga tak langsung panas di tangan. Selain itu, expandable polysteren yang digunakan mi instan cup telah melewati penelitian BPOM dan Japan Environment Agency, sehingga memenuhi syarat untuk mengemas produk pangan.

Memasak mi instan juga tak perlu menggunakan metode dua air terpisah karena air rebusan mi pertama justru mengandung betakaroten yang tinggi. Semua vitamin, mulai dari minyak dan bumbu yang larut dalam air, terdapat dalam air rebusan pertama ketika memasak mi. Jika air rebusan tadi diganti dengan air matang baru, justru vitaminnya hilang. Selain itu, minyaklah yang membuat mi atau makanan lain lebih enak. Jadi, air rebusan pertama tidak perlu dibuang. Dan kandungan betakaroten juga tocoferol dalam minyak sangat memenuhi kebutuhan gizi.

Bahkan MSG yang dianggap sebagai makanan yang berbahaya bagi kesehatan sebenarnya tak lebih dari sekadar paduan air, sodium, dan glutamate. Glutamate alami banyak ditemukan dalam bahan makanan hasil fermentasi, seperti kecap, tauco, keju, tomat, susu, ikan dan jamur. MSG telah digunakan ribuan tahun lalu oleh masyarakat Asia Timur sebagai penambah rasa makanan.

Lembaga pengawas kesehatan, seperti Depkes maupun WHO atao Codex, telah menyatakan bahwa MSG merupakan jenis bahan tambahan makanan yang tidak dilarang penggunaannya dalam industri pangan (sepanjang tidak melampaui batas aman yang distandarkan). "Mi instan menggunakan bahan pengawet. Dalam proses pembuatannya, mi instan mi instan menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mi instan adalah dengan deep frying yang bisa menekan rendah kadar air sekitar 5 persen. Metode lain adalah hot air drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mi instan bisa awet hingga 6 bulan, asalkan kemasannya terlindung secara sempurna," tambah Prof Dr FG Winarno.

Kadar air yang sangat minim tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup apalagi berkembang biak. Malah mi instan tidak beraroma tengik serta tidak menggumpal basah. Untuk memastikan apakah mi instan layak dikonsumsi atau tidak adalah memperhatikan dengan seksama tanggal kadaluarsanya.

Muncul juga rumor bahwa mi instan bisa menyebabkan usus lengket dan bocor. Rumor ini pun dipatahkan oleh Prof Dr FG Winarno. "Untuk menentukan suatu penyakit seseorang bukan suatu hal yang sederhana, tetapi diperlukan kajian yang ilmiah dan mendalam. Dalam hal ini, tentu saja tidak cukup orang awam yang menyimpulkan. Bahkan sering diperlukan beberapa orang ahli dan masih harus didukung analisis laboratorium yang cukup kompleks dan canggih," tandasnya.

Rumor lain yang juga cukup mengganggu adalah bahwa mi instan mengandung sedikit serat, tapi kadar karbohidratnya tinggi, sehingga bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Sebenarnya kandungan mi instan beragam, tak hanya karbohidrat. Ada juga kadar protein yang tinggi dan vitamin-vitamin.

Pada dasarnya tak ada satu jenis makanan di dunia ini yang dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi tubuh, kecuali ASI untuk bayi di bawah 6 bulan. Oleh karena itu, setiap makanan yang dikonsumsi manusia harus dilengkapi kandungan lain. Mineral 37 jenis dalam satu makanan agar zat gizi di dalamnya saling melengkapi kebutuhan manusia.

Mi instan sendiri mengandung protein, lemak, vitamin A, C, B1, B6, B12, niasin, folat, pantotenat, dan mineral besi. Mi instan pun telah dilengkapi dengan sayuran seperti wortel. Namun jumlahnya memang tak sebanyak yang diperlukan. Jadi, harus dilengkapi dengan makanan lain. Itulah yang tertera pada saran penyajian. Jika ingin makan mi instan dan mendapat asupan gizi, tambahan telur, sayur, atau daging sehingga mi instan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi. Lalu minum jus buah tanpa gula, sehingga sumbangan fruktosa bagi tubuh terpenuhi.
sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2009/10/26/27/269154/27/mi-instan-mengandung-zat-bergizi-untuk-tubuh
Labels: edit post
0 Responses

Posting Komentar